Si A kaya namun Si B miskin, itulah yang adil

“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Kadang kita melihat seseorang, ada yang sangat kaya tapi ada juga yang pas-pasan. Bahkan untuk makan saja susah. Sebenarnya adilkah kehidupan ini? Tentu jika kita hanya melihat saat ini, saat masa menuai sekilas terlihat tidak adil. Jika diibaratkan sawah, 2 orang petani yang sama-sama menggarap sawahnya, luasnya sama misal 1 hektar, lalu saat panen yang satu dapat 1 ton sedangkan yang lain dapat 1 kuintal saja, adilkah? Tentu tidak jika usaha keduanya sama.

Namun pada kenyataan hidup, ada yang membedakan antara keduanya adalah usahanya. Petani yang panen 1 ton jika kita lihat ke belakang ternyata selama tiga bulan dia selalu bangun sebelum shubuh, sholat dll lalu berangkat pagi untuk menjaga sawahnya, mengusir burung yang memakan padinya, menghilangkan hama wereng dan tikus dan sebagainya. Sedangkan petani yang dapat 1 kuintal saja bangun jam 11 siang, lupa sholat shubuh, itupun di sawah cuma sampai jam 14 tanpa mengusir hama tanaman, lalu pulang untuk istirahat, ngobrol, bersantai dsb, waktu mereka sehari sama 24 jam, namun penggunaanya berbeda.

Di sisi lain, modal awal mereka juga sama ternyata, 5 juta rupiah. Petani pertama menggunakan 5 juta itu untuk membeli benih berkualitas 1 juta, untuk 2 macam pupuk 1 juta, untuk pengerjaan sawah dengan alat modern 1 juta dan lain-lain 500 ribu, sedangkan 1,5 juta sisanya untuk hidup dia dan keluarganya di desa. Sebaliknya petani kedua menggunakan 1 juta untuk judi, 1 juta lagi untuk makan-makan di restoran, 500 ribu untuk beli benih padi kualitas rendah, pupuk 1 macam 500 ribu dan pengerjaan sawah dengan membayar orang tanpa alat 500rb. Sisanya 1,5 juta sama seperti petani pertama untuk menghidupi keluarganya. Jadi adilkah bila petani pertama mendapat 1 ton sedangkan petani kedua 1 kuintal? Secara logis kita akan menjawab itulah yang adil. Ya adil bukan berarti sama.

Hal ini pula yang terjadi dalam kehidupan nyata kita. Kalau kata teman saya,” sebenarnya kita hanya memindahkan derita masa depan ke sekarang”. Saat ini, presiden, menteri, pengusaha, dosen, ilmuwan, direktur apapun itu yang kita lihat sebagai orang sukses saat ini bukanlah tiba-tiba datang kepada mereka. Itu semua adalah hasil “panen” mereka dari sebuah perjuangan panjang. Bandingkan saja orang di sekitar anda, ada seorang tetangga saya alumni UGM, sejak SD dia sudah juara kelas, belajarnya rajin, tidak pernah menyontek, saat UN pun jujur. Bahkan saya juga masih ingat saat masa-masa SMP dan SMA sering bangun jam 2 saat masa-masa ujian, ngapain?  Belajar. Dan hal ini juga yang banyak dilakukan teman-teman saya selain sebelumnya tentu juga belajar, bukan hanya SKS. Saat akan masuk perguruan tinggi pun begitu 3 bulan intensif belajar SPMB. Uang untuk beli buku dan sebagainya. Sebaliknya banyak dari kita yang malas belajar, saat sekolah malah hanya bermain, saat ujan mencontek dsb. Miris juga, saat saya di Bandung, saya jadi tahu ternyata banyak dari nilai anak-anak sekolah itu bagus karena orang tuanya memberi “amplop” atau kue ke guru, bahkan saat ujian nasional  mereka mendapat kunci jawaban, ini fakta. Waktu sehari-hari mereka habis untuk bermain, menonton TV dan main blackberry.

Di luar dunia sekolah pun begitu, ada orang yang merintis usahanya dari nol, kerja keras tiap hari dan sekarang sukses. Ada juga orang yang masa mudanya habis untuk nongkrong, main game, main kartu, jalan-jalan ke mall dan sebagainya lantas sekarang hidupnya susah. Adilkah? Tentu adil.

Karena itu buat kita yang saat ini masih sekolah, seriuslah dalam belajar, kurangi buang-buang waktu dsb. Juga buat kita yang tidak lagi sekolah manfaatkan waktu sebaik mungkin baik untuk usaha, kerja atau apapun itu. Buat seimbang, jangan sampai waktu habis terbuang untuk hal-hal tidak berguna. Karena sebenarnya modal kita sama, waktu 24 jam. Harta, orang tua apapun itu adalah faktor eksternal yang tidak akan ada artinya bila faktor internal kita tidak dimanfaatkan.

Maka jika nanti anda miskin, jangan salahkan siapa-siapa karena diri andalah yang salah. Begitupun kehidupan akhirat. Karena hasil akan sejalan dengan usahanya, tinggal menunggu waktu saja.

One response to “Si A kaya namun Si B miskin, itulah yang adil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s