Basahnya Bisnis Farmasi

Di Indonesia ini terdapat sekitar 300 Industri Farmasi, belum lagi industri jamu, suplemen, kosmetik atau produk-produk lain yang berhubungan dengan farmasi. Bahkan jika kita melihat lebih dalam, industri makanan dan fast moving consumer goods (FMCG) lain seperti personal care, home care, toiletries juga bagian dari farmasi. Betapa tidak? Ilmu-ilmu tentang formulasi, surfaktan, pengawet, pemanis, pewarna, bahan tambahan lain, mikrobiologi, analisis mutu dan berbagai ilmu lain terdapat di farmasi. Setidaknya itu yang saya peroleh di program studi sains dan teknologi farmasi ITB. Lebih dari itu di program profesi apoteker, saya juga belajar tentang regulasi produk-produk tersebut dan manajemen bisnisnya.

Entah karena pelaku dunia industri belum tahu hal ini atau karena memang di fikiran sebagian besar orang farmasi = obat, maka kebanyakan lulusan farmasi ya habis diserap di industri obat saja. Padahal mereka dapat berkiprah di produk-produk FMCG tersebut. Jadi anda sekarang tahu bukan betapa luas cakupan kinerja farmasi seharusnya? Hal ini yang banyak recruiter tidak tahu. Nah, jadi jika anda masuk jurusan farmasi maka anda bisa bekerja di bidang-bidang tersebut, tidak hanya itu anda pun bisa membuka bisnis sendiri.

Namun membuka bisnis untuk produk seperti diatas tidaklah mudah, perlu modal dana, jaringan, dan pengalaman lebih. Lantas jika anda seorang fresh graduate farmasi kira-kira bisnis apa yang bisa langsung dikerjakan? Saya ingin cerita sedikit tentang apotek.

Jika anda sudah lulus program apoteker tentu ini menjadi salah satu pilihan. Selain secara undang-undang memang hanya orang yang bergelar apoteker yang  boleh mengelola apotek (tidak terlalu banyak pesaing), bisnis ini juga sangat menguntungkan. Sebagai contoh di tempat saya kerja praktek. Apotek yang baru setahun berdiri, saat ini sudah mempunyai sekitar 7 orang karyawan dengan omset sekitar 15-20 juta perhari atau 450-600an juta per bulan.

Peraturan pemerintah menetapkan bahwa harga obat resep maksimal adalah 130% HPP (info terbaru bahkan boleh 140% HPP) dan harga obat swalayan (OTC)  adalah 120%. Bila kita anggap saja rata-rata, apotek mendapat keuntungan 20% maka laba perbulan adalah 90-120 juta. Gaji karyawan dan biaya listrik air dan sebagainya missal hingga 20 juta, maka anda akan dapat laba bersih 70-100 juta. Bila rata-rata laba missal 25% maka rupiah yang kita dapatkan berarti 112,5-150 juta. Itu dari satu apotek yang baru berdiri setahun, bagaimana jika anda mempunyai apotek jaringan semacam kimia farma, K-24 atau century?

Pertanyaan lain, mengapa apotek yang baru setahun buka sudah mempunyai omset sebanyak itu? Dari kuliah, pengalaman dan analisis yang saya dapatkan, ini penyebabnya

1. Tempat pemilihan apotek strategis

Ya seperti retail pada umumnya, anda harus mencari tempat dimana banyak orang akan berkunjung kesana, seperti banyaknya penduduk, letaknya di jalan raya utama, dekat dengan tempat umum dan sebagainya. Ciri khas lokasi untuk apotek adalah anda harus mencari tahu berapa banyak dokter yang praktek di sekitar apotek anda. Karena resep dari dokter tersebut akan ditebus di apotek anda, lebih bagus lagi bila dekat rumah sakit, sehingga apabila rumah sakit sedang kehabisan obat maka pasien akan datang ke apotek anda.

2. Minimnya pesaing

Apotek dari segi regulasi sangat ketat, peraturan mensyaratkan minimal ada dua orang apoteker yang bekerja disana, seorang sebagai penanggung jawab satu lagi sebagai pendamping, sedangkan jumlah apoteker masih terbatas. Di kota kecil atau di desa mungkin anda hanya akan menemukan satu atau dua apotek sekota, bahkan ada daerah yang tidak punya apotek sehingga dokter menjual obat sendiri dan ini melanggar undang-undang.

3. Adanya dokter in house

Asset gedung apotek sangat penting, sedikit lebih luas saja anda bisa bekerjasama dengan dokter untuk praktek disana untuk membuat klinik (disebut dokter in house). Dokter umum, dokter gigi, dokter anak dan dokter THT rasanya cukup, dari pengalaman KP seorang dokter bisa mencapai 30 pasien perhari bila memang sudah terkenal, jika ada 5 dokter maka bisa sampai 150 resep. Jika kita hitung murah saja satu dokter resep rata-rata 100rb maka omset mencapai 15 juta itu hanya dario resep

4. Obat, sesuatu yang tidak bisa tidak dibeli

Jika anak anda sakit, terus dokter memberi resep dan ternyata harga obatnya 200rb, mungkinkah anda tidak jadi membeli? atau menawar harga obat? dari pengalaman hal itu tidak pernah saya temui. Semua orang akan langsung membeli tanpa menawar (karena memang harga obat sudah di pas). Paling bila pasien memang orang yang mengerti kesehatan, ia akan meminta obat generiknya, namun ada juga yang mengerti kesehatan namun tidak mau obat generik karena khawatir akan kualitasnya.Ya demi kesehatan orang akan lakukan segalanya.

5. Peraturan harga jual

Peraturan pemerintah menyebutkan harga jual bisa 130% dari HPP, bahkan kemarin saya denger ada peraturan baru, bahwa harga jual boleh 140%. Tentunya sebagai seorang farmasis yang berjiwa sosial, kita juga bisa melihat kondisi pasien, bila pasien tidak mampu mungkin saja obat dikasih gratis. Namun kenyataanya, pasien-pasien yang memeriksakan diri ke dokter dan memperoleh resep memang pasien-pasien yang cukup kaya. Bayangkan saja obat TBC yang harus diminum 6 bulan, maka apotek juga akan mendapat pendapatan rutin dari pasien. Bukan bearti apotek senang bila ada pasien TBC ya, itu beda konteks.

Jadi ada yang punya bangunan yang letaknya strategis dan mau kerjasama?? InsyaAllah saya lulus Oktober 2012 ^_^

11 responses to “Basahnya Bisnis Farmasi

  1. kak saya nak sf yg baru masuk tahun ini dan iAllah tahun dpan bru masuk jurusan. saya bingung mau pilih stf atau fkk. bisa gag saya kelola apotek.kalo saya pilih stf? makasih kak

  2. bisa2, STF & FKK dari segi hukum bisa masuk baik ke Industri maupun pelayanan krn sama2 ambil apoteker. Hanya saja spesialisasinya, mau lebih ahli dibidang sains & industri atau pelayanan?

  3. Hehehe…..kok kenyataan buka apotek untungnya bahkan ngga bisa sampai 8 persen……..kalo maksa ya kalah bersaing di apotek lain, kecuali apotek di luar SBY kali ya?…

  4. mbak fifi itu 8% laba bersih atau kotor? sudah dikurangi pegawai, listrik, air sewa gedung dll? sepertinya tempat memang sangat berpengaruh.. di tempat saya kerja praktek, omset apotek perhari sekitar 15 juta, per bulan berarti 450 juta, margin obat sekitar 15%, peraturan bahkan membolehkan ethical drug sampai 40% kan..misal klo 8% saja laba bersihnya seperti yg mbak fifi alami, berarti sudah 36 juta laba bersihnya

  5. kk saya mahasiswi farmasi. mau nanya. emang kalo buka apotek gitu dpet gaji dr pemerintah gg ??, trus klo kgg, semisalnya apotek sepi si apoteker dpt biaya dr manaa ??,
    jd intinya apoteker lebih enak kerja d industri apa dikomunitas ??

  6. klo buka sendiri ya dapet dari keuntungan penjualan, fluktuatif, kalo kerja di apotek orang ya dapet gaji terus tapi stagnan. Tentang kerja enak dimana, setiap orang punya passion dan kecenderungan masing2. Klo parameter enak adalah ga banyak mikir ga banyak pusing, lebih enak jadi PNS, di BPOM misalnya.. klo parameter enak adalah tantangan, seneng ambil resiko dsb, bisnis akan lebih enak, klo parameternya pengen dapet gaji tetap tapi msh pengen sedikit tantangan, di industri jg cocok. Kalo saya, lebih pilih bisnis🙂

  7. Mba,saya ingin sekali membuka apotek yang menggunakan sistem apotek waralaba . tapi saya masih bingung untuk apotek waralaba apakah kita sebagai yang punya cukup menginves saja atau harus ikut terjun langsung mengembangkan apoteknya ? dan kalau terjadi gulung tikar bagaimana ? trims ya Mba atas jawabannya.

  8. maaf ya mau nanya..kl boleh tau apotik tempat anda praktek PSA-nya sapa (dokter/apotekr/profesor?), trus modal awalnya berapa, kira kira luas apoteknya berapa.. thankyu sblmnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s