Mencoba Menikmati Kemandirian…

” Pak, ampun ngei kulo duwit meneh…”

begitulah kira-kira sms yang saya kirim ke ayah sekitar pertengahan tahun 2009 kalau tidak salah, artinya,” pak jangan beri aku uang lagi…”

Yah menjadi mahasiswa memang sebuah perjalanan panjang, dan tidak sedikit bekal yang terpakai selama perjalanan itu, entah berapa puluh juta rupiah sudah dihabiskan. Saya sangat kagum pada banyak orang yang bisa mandiri, di kampus ITB maupun di kampus lain sangat banyak, yang telah punya bisnis sejak kuliah. Saya sungguh salut dengan mereka.

Sampai suatu saat saya pun dengan tekad bulat, ingin mendekati mereka. Saya belum bisa seperti mereka, namun setidaknya berusaha seperti mereka, menjadi mandiri. Alhamdulillah beberapa petualangan terjadi, baik sebelum maupun sesudah SMS itu saya kirim ke Ayah.

  1. Legizhat, ini sebenarnya adalah program PKM-K, membuat risoles gizi lengkap untuk sarapan mahasiswa ITB, berjalan 3 bulan karena ketua kelompok tidak mau meneruskan bisnis ini lagi.
  2. Konveksi, pernah sekali, saat itu dengan produk jaket kamifa
  3. Ngajar Bimbingan belajar, sudah 2 bimbingan belajar yang saya masuki, pertama sekitar tahun 2008 di ‘Ilmy Ganesha, kemudian LEIC privat yang sampai saat ini masih saya lakukan, Rp. 50.000 per 1,5 jam rasanya cukup buat saya.
  4. http://www.facebook.com/mico2rporation , ini adalah usaha penjualan bibit jamur. Sebenarnya kelanjutan dari program PKM juga, tahun kemarin pun lolos program wirausaha mahasiswa. Cukup mudah, hanya sekedar menjual, produksinya di PAU ITB.
  5. http://bimbelganeshasmart.co.cc/ , bimbingan belajar yang saya dirikan
  6. Lomba-lomba, banyak lomba yang saya ikuti, ada yang menang dan dapat hadiah (PKM, lomba tanoto, lomba inovasi ITB) ada pula yang tidak menang dan malah keluar uang (Climate smart leaders).
  7. Beasiswa, alhamdulillah saya dapat beasiswa BPP penuh dari eka tjipta foundation.

Menjadi mandiri itu membuat kita belajar banyak hal. belajar menjadi manusia yang tidak bergantung. Setidaknya sampai saat ini BPP kuliah, buku, Tugas Akhir, Pulsa, Baju, HP, servis motor, sepatu, tas, biaya makan bareng mutarabbi, biaya-biaya training/daurah, makan sehari-hari dan sebagainya tidak lagi minta pada orang tua. Walaupun jika tiba-tiba dikasih juga tidak nolak, setidaknya jiwa mandiri itu telah terbangun.

Ayok, mandiri!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s