Ketika Aktivis Dakwah Hendak Menikah

Sejenak kita bayangkan, di sebuah seminar / daurah pranikah sekota Bandung yang dihadiri oleh sekitar 800-an aktivis dakwah. 1/4 dari jumlah itu diisi oleh ikhwan dan 3/4 nya oleh akhwat. Ya begitulah kondisi daurah yang kemarin saya ikuti. Banyak hal yang di dapat dari Ustadz Salim A. Fillah, Ustadz Riza (Directur Sygma – Syaamil Qur’an), Ketua bidang keakhwatan DPW P*S jabar dan pembicara-pembicara lainnya. Namun bukan ilmu-ilmu itu yang akan saya share, karena sangat banyak dan tidak akan tertuliskan di sebuah post.

Sejenak saya berfikir positif, bahwa jumlah ikhwan lebih sedikit itu memang mereka pada sibuk, atau tidak tertarik, sedangkan akhwat pasti semua aktivis dakwah datang di acara ini. Kemudian setelah seorang teman saya bilang, bahwa tadi akhwat-akhwat sekampusnya pada tidak bisa ikut acara ini, kenapa? ternyata karena sudah tidak cukup kuota untuk akhwat. yah sekilas saya juga melihat bahwa tidak banyak akhwat sekampus saya yang ikut, ikhwan pun begitu. Jadi, sepertinya jumlah yang timpang ini bukan disebabkan oleh ikhwan yang malas hadir di acara seperti ini. Dan di akhir acara pun MC bilang bahwa memang jumlah akhwat di Bandung ini setidaknya 5 banding 1 dengan ikhwan, bahkan ada yang bilang 7:1. Entah data dari mana yang jelas saya pernah dengar hal serupa dari seorang ustadz.

Lantas bagaimana solusinya? akankah akhwat – akhwat ini menikah dengan selain aktivis dakwah? atau dengan harokah lain? atau ikhwan akan poligami? yang jelas ketiga solusi itu bukan yang ideal untuk saat ini. Solusi pertama jelas kehidupan rumah tangga aktivis dakwah ini akan kurang produktif dalam dakwah, bagaimana tidak ketika si akhwat harus membimbing suaminya untuk rajin ngaji, untuk rajin ibadah dan sebagainya, berapa lama sampai sang suami sadar akan kewajiban dakwah? Solusi kedua pun sangat beresiko, beruntung bila keduanya tidak mempermasalahkan perbedaan fikrah, namun ternyata di lapangan hal itu sangat sulit, bahkan menurut cerita ustadz, ada seorang akhwat yang sampai minta cerai dan akhirnya disuruh oleh ustadz tersebut untuk tetap taat pada sang suami, tidak mengapa meninggalkan aktivitas dakwah di harakah ini. Solusi ketiga pun tidak semua orang bisa melakukannya. Sang akhwat banyak yang tidak siap, karena kebiasaan yang ada di lingkungan menekannya, sang ikhwan pun, banyak kewajiban yang susah ia penuhi mulai dari adil, kebutuhan finansial, tekanan keluarga dan lingkungan dsb.

Hal ini bukan pula membuat ikhwan bersantai harusnya, bahkan berkata, ” akhwat banyak jadi gw santai-santai saja”. ya solusinya harusnya adalah ikhwan semakin gencar dalam dakwah, rekrutmen ikhwan harus 4 kali lipat rekrutmen akhwat, terus, terus dan terus membina. Mungkin benar bahwa wanita itu lebih cenderung kepada kebaikan sehingga lebih banyak terekrut, sebaliknya ikhwan memang susah. Bayangkan saja di kampus saya saja setiap acara pasti banyakan akhwatnya, padahal kampus teknik. Akhirnya pun banyak sekali akhwat yang mulanya mempunyai kriteria tinggi terhadap calon suaminya, sampai sampai menolak ikhwan yang dulu melamarnya. Berangsur-angsur setelah usia bertambah, tidak ada lagi yang melamarnya dan akhirnya ia hanya punya satu kriteria untuk calon suaminya. Yah begitu kata ustadz kemarin.

“Penyakit” yang ada di banyak ikhwan adalah saat ada dua orang akhwat yang sama-sama baik dalam hal agama adalah memilih istri yang muda dan cantik, dan begitu seterusnya, bahkan pembicara pun dulu katanya menikah dengan akhwat yang lebih muda 4-5 tahun. Ada satu hal yang ustadz Salim bilang, bahwa saat dulu beliau dihadapkan oleh dua pilihan, dimana satu cantik dan satunya kurang cantik menurut pandangan mata, maka beliau ingat akan pesan salah satu ulama, bahwa pilihlah yang paling jauh dari nafsumu, maka beliau pun memilih yang kurang cantik dipandang dari nafsu mata. Namun adakah ikhwan seperti ini saat ini? hampir tidak ada, karena juga tidak ada larangan dalam Islam untuk memilih yang lebih cantik.

Sebuah hal yang sangat sensitif, yaitu menikah, secara Iman kita yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita dan sesuai dengan kualitas diri kita dan secara ikhtiar, perbanyak jumlah ikhwan, perbanyak rekrutmen ikhwan agar para akhwat ini mendapat pasangan yang aktivis dakwah juga.

Agar rumah tangganya adalah rumah tangga dakwah, yang menjadi pencerah untuk tetangga dan lingkungannya, agar rumah tangganya benar-benar bagian dari peradaban Islam, agar rumah tangganya menghasilkan anak-anak yang menjadi pemimpin ummat dan agar rumah tangganya sampai ke Surga-Nya kelak.

karena “Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. [Hassan Al Banna]

3 responses to “Ketika Aktivis Dakwah Hendak Menikah

  1. yah tdk semua ikhwan bisa berlaku adil,dan banyak hal seorg istri tdk menerima wanita lain.krn laki2 biasanya habis manis sepah dibuang.dia tdk mengajarkan berlaku adil atau mengajarkan kesabaran.(ini pengalaman pribadi)

    • mungkin karena kasus2 kaya Ibu juga, saya berpendapat bahwa ketiga opsi diatas bukan hal ideal saat ini, saya juga tidak berani poligami (satu saja belum hehe). Hanya saja bila hal itu sudah terjadi, ada baiknya bilang langsung kepada bapak secara baik2, hal2 mana yang mungkin perlu diperbaiki, sembari husnudzon kepada bapak bahwa ia juga sudah berusaha adil walaupun tentu tidak bisa sempurna…sebagaimana husnudzon kita kepada Allah akan hal2 yang kita alami…Wallahua’lam

  2. Lantas bagaimana solusinya? akankah akhwat – akhwat ini menikah dengan selain aktivis dakwah? atau dengan harokah lain? –> pertanyaan mengesankan..

    “Penyakit” yang ada di banyak ikhwan adalah saat ada dua orang akhwat yang sama-sama baik dalam hal agama adalah memilih istri yang muda dan cantik, dan begitu seterusnya, bahkan pembicara pun dulu katanya menikah dengan akhwat yang lebih muda 4-5 tahun. —> my friend of mine told me appearance wasnt the major thing but wasnt the minor thing also

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s