Karakteristik Aktivis Kemahasiswaan Sekarang

Kita mungkin sering diceritain kisah aktivis zaman dulu, ntah itu di BEM (kabinet KM), di himpunan atau di unit kemahasiswaan. Saya pernah dengar kalimat, dulu katanya orang-orang bilang “kalau IPK lo bisa di bawah 2, itu berarti aktivis sejati!”, “aktivis itu yang kuliah sampai batas lulus terakhir” dan sebagainya, tapi Itu dulu. Ya memang begitu katanya zaman dulu, aktivis banyak yang sibuk di kegiatan organisasi mereka, bahkan sampai bergesekan dengan pemerintah, tentara dsb. Kampus ITB saja pernah di kuasai tentara saat itu karena aktivitas civitas akademika nya yang memprotes pemerintah saat itu.

Ya, sekali lagi itu masa lalu. Semboyan bahwa orang yang benar-benar aktivis adalah ia yang sampai “melupakan” akademiknya menurut saya sudah tidak relevan lagi.  Sejak di SMA pun saya melihat fenomena ini juga berubah. Khususnya temen-temen yang aktif di Rohis SMAN 1 Wonogiri saat itu, mereka adalah orang-orang yang berperingkat 3 atau 5 besar di kelas. Bahkan saat ada olimpiade SMA tingkat kabupaten tahun 2006 saat itu, hampir semua juaranya adalah aktivis Rohis SMANSA, mulai dari cabang kimia, fisika, biologi, akuntansi, astronomi, matematika dan ekonomi. Seingat saya hanya satu cabang yang anak rohis tidak terlihat namanya saat itu yaitu komputer. Bagi saya temen-temen saat itu benar-benar aktivis. Aktivis organisasi, aktivis agama, dan aktivis akademis.

Fenomena seperti itu juga yang saya lihat sekarang sedang terjadi di ITB. Aktivis yang muncul bukanlah aktivis parsial (walau masih ada), temen-temen disini benar-benar aktivis yang kompleks seperti saat saya di SMA dulu. Khususnya temen-temen yang saya kenali di Gamais ITB. Walau akhirnya mereka focus di tempat masing-masing tapi saya mengenal mereka pertama dari Gamais. Ada seorang kepala Gamais tahun 2007 yang IPnya 3,9 saat menjabat di Gamais, ada seorang kepala syiar yang punya bisnis kafe dan telah menulis sebuah buku, ada juga seorang ketua himpunan yang menjadi runner up ganesha prize, IPK nya 3,7 dan saat ini menjadi calon presiden KM ITB. Seorang temen sekelompok ngaji yang baru saja mendapat juara dalam kontes robot dunia di Trinity University, USA. Dan masih banyak yang lain.

Sebenarnya masih banyak juga aktivis yang akademisnya kurang baik, atau akademisi yang aktivitas organisasinya kurang baik. Tapi kecenderungan seorang aktivis organisasi yang juga berprestasi akademis itu mulai muncul. Ntah karena apa, banyak orang-orang itu muncul dari temen-temen saya yang memang mengikuti pembinaan Islam dengan baik . Hipotesis saya, mungkin pembinaan keislaman (tarbiyah Islamiyah) yang mengajarkan Islam yang syumul (menyeluruh) yang menjadi salah satu awal dari prestasi-prestasi mereka. Saya sendiri pun sering mengatakan pada binaan saya, bahwa antum harus punya IP 4 tapi antum juga bias jadi seorang ketua himpunan dengan IP 4 itu, dsb. Semoga perubahan karakteristik ini akan menghasilkan generasi masa depan bangsa yang memang benar-benar orang yang lengkap dan sanggup memikul beban bangsa ini.

4 responses to “Karakteristik Aktivis Kemahasiswaan Sekarang

  1. dulu pernah merasa jadi aktivis sejati lho waktu ip jeblok..
    tapi abis itu liat orang2 hebat, jadi merasa tertipu dengan alasan pembenaran seperti itu..

    tapi bukan berarti aktivis yg ip nya jelek itu berarti ga berprestasi lho,
    kita harus husnudzon dan turut membantu jika ada teman kita yang punya masalah,

    bagaimana mungkin kita bisa mengalahkan kejahatan yang terorganisir,
    klo kebaikannya tidak terorganisir..

    cmiww

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s