Perlu pemahaman yang komprehensif

Kemarin dua kali mendengar ta’lim, ada satu kalimat atau nilai yang sama dari dua ustadz berbeda yang saya tangkap. Dari ustadz Aam amiruddin pada kajian ba’da shubuh radio Oz dan dari ustad Yayat pada ta’lim ma’rifatullah di daarut tauhid. “Perlu pemahaman yang komprehensif”, ya itu kalimatnya.

Saat pagi di kajian radio Oz ustadz Aam ditanya tentang dalil bahwa Allah telah mengetahui siapa saja yang masuk syurga dan siapa saja yang masuk neraka, lantas penelepon bertanya, bila Allah sudah menetapkan dia masuk neraka, mengapa dia masih diciptakan? Bukankah tidak adil?. Untuk kita yang masih belum banyak paham, tentu pertanyaan ini bisa dianggap logis. Namun kemudian ustadz Aam menjelaskan dengan beberapa dalil. Intinya adalah menurut beliau, masuk surga  atau neraka sebenarnya adalah pilihan manusia. Ia yang akan memilih jalan hidupnya dan ia yang mencari seberapa banyak bekal yang akan ia bawa ke akhirat. Disini Allah Maha Mengetahui apa yang akan dipilih orang tersebut, karena pengetahuannya tidak terbatas ruang dan waktu. Saat diciptakan semua manusia sama, dalam keadaan suci, namun akhirnya setiap orang memilih jalan masing-masing. Jadi ia bukannya diciptakan untuk masuk neraka, namun ia diciptakan untuk memilih surga atau neraka dan Allah maha Mengetahui pilihannya. Seperti apa yang ada di dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak akan mendzalimi hamba-Nya.

Kedua saat kajian di daarut tauhid. Ustad yayat selalu memberikan contoh setelah membacakan suatu dalili naqli. Misalkan disunnahkannya baca doa saat mau masuk kamar kecil, bukan diartikan misalkan seorang tukang bangunan yang mau memperbaiki kamar kecil terus dia bolak-balik keluar masuk, ia harus terus baca doa, ada sedikit guyonan memang, tapi intinya adalah Islam harus dipahami secara komprehensif. Sama saat ada dalil babi dilarang dimakan, bukannya di tafsirkan saat kita tersesat ditengah hutan, sudah sangat kelaparan bahkan mau mati terus yang ada hanya air dan babi, maka bukannya kita memilih kelaparan, namun  disana babi juga menjadi halal. Zaman sahabat dulu juga ada, saat perang ada sahabat yang terluka kepalanya sampai berdarah, kemudian masuk waktu sholat namun ternyata ia sedang junub. Ia bingung harus mandi atau tidak, maka sahabat yang lain menyarankan ia mandi wajib dan ternyata ia pun wafat. Saat hal ini ditanyakan kepada rasulullah, sahabat-sahabat “dimarahin”. Kalau seperti itu kondisinya, ia boleh tayamum. Sebenarnya banyak di sekeliling kita juga, pemahaman yang kurang komprehensif, misalkan ada quotes “ diam itu emas” atau ada ustadz bilang banyak omong maka banyak salah. Sebenarnya inti dari kalimat ini bukanlah lantas kita diam terus. Saat rapat mengangguk-angguk, saat diamanahkan jadi ketua panitia tidak mau karena takut jadi banyak berbicara atau saat diminta menjadi mentor, mentoringnya cuma 15 menit karena takut salah saat berbicara. Semua ada ukurannya, jika saat itu kita perlu bicara banyak, saat khutbah, ngisi mentoring, usul-usul dirapat atau bicara kebaikan maka bicara yang banyak bukan lantas tidak boleh. Namun saat kita bicara suatu hal yang kurang manfaat, becanda, dsb maka itu yang harus dibatasi. Ya perlu pemahaman yang komprehensif dan mari terus belajar.

3 responses to “Perlu pemahaman yang komprehensif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s