Paradigma tentang pembinaan

Di suatu daurah ada tugas menganalisis lembaga da’wah kampus, ada satu kalimat evaluasi yang bahkan sejak saya masuk kampus ITB sampai saat ini mau lulus (di tahun ini, amiin) masih ada saja, yaitu :

Pembinaan kurang, kader terlalu banyak dikaryakan tetapi kurang terbina

Saya masih bingung dengan orang yang bicara seperti ini. Padahal coba kita list agenda-agenda pembinaan di kampus.

  • Mentoring
  • Sekolah Gamais
  • Kajian ifthar
  • Mabit Ashabul Qur’an
  • PA MATA’
  • tastqif
  • Kajian hadits, sirah, tafsir LPD Salman
  • Kuliah sabtu dhuha
  • Kelas bahasa arab Salman
  • SPN
  • Ta’lim di LDW
  • Daurah-daurah
  • Masih banyak lagi

Empat teratas dilakukan dibawah Gamais dan yang saya lihat, faktanya semua agenda diatas peserta tidak maksimal. Pernah kajian sirah Salman yang saya ikuti Cuma ada sekitar 6 peserta. Lalu kemanakah anak-anak yang bilang bahwa pembinaan di kampus kurang? Di saat agenda-agenda itu dilakukan banyak mereka tidak ada di tempat agenda.

Maka seharusnyalah paradigma kita tentang pembinaan yang harus diperbaiki. Bukanlah pembinaan yang harus menyesuaikan dengan jadwal kita, tetapi kitalah yang meluangkan waktu untuk menghadiri pembinaan tersebut.

Sangat aneh bila ada orang selalu merasa pembinaan kurang, padahal di agenda-agenda pembinaan yang sebanyak itu ia jarang datang. Lagipula pembinaan tidak harus kita dapatkan dari kampus, ada darusy syabab bagi ikhwan, ada percikan iman, ada daarut tauhid dsb, radio-radio dan media cetak juga menyediakan materi-materi yang bisa kita ambil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s