Sebuah mimpi untuk Farmasi Indonesia

Saudaraku,
Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukanlah akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan di hari esok. Waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.

[Hasan Al Banna, Ulama Mesir]

Mahasiswa bermimpi tentang bangsa, pernahkah terbayang mimpi-mimpi itu ? mungkin pernah, tapi pernahkah tertulis lalu terealisasikan ? Sangatlah realistis saat seorang mahasiswa bermimpi tentang bangsanya, karena kelak ialah yang akan menjadi penentu disana, entah sebagai pemimpin, saintis, pengusaha atau profesi lainnya, yang pasti sebagian besar alumni perguruan tinggi ini akan menjadi orang berpengaruh bagi masyarakat kelak. Semoga tidak ada lagi diantara kita, para mahasiswa yang masih hanya bermimpi bagaimana caranya lulus cumlaude, dapat kerja di perusahaan asing dengan gaji besar, punya istri cantik sekaligus rumah, mobil, dapat berfoya-foya setiap akhir pekan dan kemewahan pribadi lainnya. Karena tentu tanggung jawab kita sebagai manusia yang diberi kesempatan menikmati pendidikan bukan hanya itu.

Kali ini saya ingin berbagi mimpi, bukan asal mimpi, namun mimpi yang seharusnya bisa direalisasikan nantinya. Mimpi yang sesuai dengan kompetensi kita saat ini dan nanti. Saya seorang mahasiswa farmasi, termasuk dalam kelompok ilmu kesehatan bersama kedokteran, kebidanan, dan keperawatan. Pertama mari mensintesis kondisi berdasarkan data yang ada.

Farmasi, produknya pasti hampir setiap orang pernah menggunakannya, bukan lagi sebagai kebutuhan sampingan, melainkan kebutuhan primer yang akan mengganggu kehidupan bila tidak tersedia.  Bayangkan saja bila seseorang akan dioperasi, entah cesar, karena kecelakaan, penyakit dalam dan sebagainya tidak terdapat obat anestetik, lebih sederhana lagi saat gejala flu ia tidak dapat menemukan obat dekongestan dan anestetik-antipiretik, bagaimana kualitas hidup orang tersebut sangat terganggu. Dunia farmasi Indonesia, berdasarkan data-data yang ada mempunyai kondisi seperti ini :

  • Jumlah farmasis yang sedikit dan terpusat di  kota besar
  • Bahan baku farmasi yang hampir semuanya impor
  • Riset dan penemuan obat baru yang bisa dibilang tidak ada
  • Industri asing yang banyak menguasai pasar
  • Pendidikan farmasi sedikit yang mengarah kepada industri
  • Industri dalam negeri hanya pada tahap formulasi dengan mitu product

Beberapa hal yang ditebalkan menurut saya saling berhubungan dan perlu menjadi fokus bangsa Indonesia. Sebuah kondisi yang miris, saat di lab saya melihat label bahan-bahan itu tidak satupun bertuliskan made in Indonesia.

Langkah kedua mari mereaksikan kondisi-kondisi menjadi sebuah mimpi. Satu kondisi saja yang saya coba bayangkan. Karena saya yakin setiap mahasiswa juga akan bermimpi kondisi lain di bidangnya masing-masing, sehingga kita tidak perlu menjadi manusia yang terbebani dengan banyak mimpi. Cukup satu atau beberapa yang itu menjadi fokus kita. Karena saat kita sudah di dunia nyata nanti yang penting bukanlah mimpi lagi, tapi realisasi dari mimpi itu. Dan gabungan dari realisasi mimpi inilah yang akan kita dapatkan 20-30 tahun mendatang.

Kondisi dunia farmasi yang saya impikan adalah Industri dalam negeri yang mampu memproduksi mulai bahan baku sampai bahan jadinya dengan banyak penemuan obat baru. Jika kondisi ini tercapai tentu Indonesia akan mandiri dalam bidang farmasi, tidak lagi “terjajah” bangsa lain karena ketergantungan bahan baku. Bahan-bahan alam yang banyak terdapat di Indonesia dapat menjadi modal untuk itu, dan tentu penghematan yang sangat besar dibanding dengan membeli bahan baku dari luar negeri.

Maka untuk menuju kesana, salah satunya adalah perbanyak ahli-ahli dalam bidang kimia farmasi. Ahli-ahli yang mampu mensintesis bahan-bahan baku itu, itu juga yang mendasari saya mengambil kelompok keahlian farmakokimia. Satu yang penting juga adalah pemegang kebijakan yang berani memberikan modal besar bagi bangsa ini. Karena satu hal yang pasti Indonesia harus mandiri hanya pertanyaannya adalah kapan kondisi itu terjadi dan jika orang lain masih bingung, maka saya akan berkata kondisi itu terjadi saat saya berkarya nanti, 20-30 tahun lagi. Amiin.

Lantas apa dan bagaimana mimpi anda untuk bangsa ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s