Setahun Ketertinggalan ITB

Setahun tertinggal? Apa maksudnya? Tentu anda akan bertanya-tanya. ITB kan perguruan tinggi pertama yang lahir di Indonesia, alumninya juga banyak yang berhasil menjadi CEO, menteri, profesional dsb, kualitas akademik pun tinggi, dosen yang harus lulusan S3 PT luar negeri ternama, fasilitas yang lengkap, jaringan yang kuat, dan input mahasiswa yang jauh diatas rata-rata, dalam segi teknologi bahkan 10 besar asia. Lantas apakah yang tertinggal?

Sebagai mahasiswa ITB yang sudah 3 tahun disini, yang telah merasakan berbagai hal di ITB, saya merasakan ada satu hal yang seharusnya bisa diperbaiki. Dengan kualitas ITB seperti, dari segi akademik, mahasiswa dan itb pada umumnya mengalami penurunan, hal ini terlihat pada prestasi yang dicapai mahasiswanya, kesuksesan alumninya, peringkat universitas dan sebagainya. Kenapa? Padahal inputan mahasiswa itb jelas sangat jauh di atas rata-rata. Masih teringat ketika dulu saya masuk ITB, saat sidang penerimaan mahasiswa baru dibacakan peringkat nilai SPMB. Nilai tertinggi adalah siswa yang masuk ke teknik mesin ITB, bukan kedokteran seperti banyak orang perkirakan, kemudian nilai SPMB rata-rata siswa yang masuk ITB sekitar 800 jauh diatas nilai rata-rata siswa yang masuk UGM dan UI yang hanya sekitar 600. Bahkan nilai rata-rata ITB pada tahun 2007 itu ternyata lebih tinggi dari nilai tertinggi di Unair dan ITS. Sebuah input mahasiswa yang luar biasa, dan itu terjadi setiap tahun termasuk  tahun anda.

Dengan inputan yang seperti itu, seharusnya semua perlombaan yang diikuti mahasiswa ITB sudah seharusnya dimenangkan mutlak oleh itb. Namun apa yang terjadi? PIMNAS 2009 itb hanya peringkat dua, PIMNAS 2010 hanya mengirimkan 6 wakilnya dan peringkat 5, lomba robot tahun 2010 itb hanya menang satu kategori, lomba rancang jembatan jarang peringkat pertama, lomba eco shell di kuala lumpur itb hanya mampu peringkat lima dan desain favorit dan banyak lagi. Memang capaian itu sudah sangat baik dibanding banyak universitas lain, itb juga pernah juara loreal, kemudian juara lomba chip di jepang, juara imagine cup, juara lomba robot internasional, BYEE dan sebagainya. Namun melihat inputan yang sedemikian hebatnya, saya merasakan mahasiswa ITB seharusnya bisa lebih dari itu. Bahkan bisa menjadi juara dalam setiap lomba yang diikutinya.

Satu hal yang berbeda dari kebanyakan universitas adalah adanya masa tahap persiapan bersama (TPB) di ITB, yaitu tahun pertama yang digunakan untuk kuliah yang bersifat umum, seperti pengetahuan lingkungan, kimia, fisika dasar, kalkulus, konsep teknologi, bahasa inggris dan sebagainya. Di saat mahasiswa lain sudah tahu kuliah-kuliah penting di jurusannya, di ITB masih seperti belajar di SMA. Beberapa kuliah tersebut pun seperti tidak ada manfaatnya, saat saya belajar fisika dasar : medan magnet, listrik, mekanika, momen gaya apapun itu selain mengulang pelajaran SMA ternyata tidak terpakai di farmasi, kalaupun ada ya hanya sebagian kecil saja dan dipelajari di kuliah di farmasi. Kalkulus pun hanya teraplikasikan pada beberapa kuliah seperti farmakokinetik dan itupun harus belajar lagi dari awal karena aplikasinya sangat berbeda dengan kalkulus dasar. Kuliah pengetahuan lingkungan pun sama sekali tidak berguna karena ada kuliah farmasi lingkungan di tingkat dua, konsep teknologi juga tidak ada gunanya, bahasa inggris juga hanya mengulang SMA, bahkan kuliahnya lebih baik di SMA menurut saya. Dalam setahun TPB sepertinya tidak lebih dari setengah mata kuliah yang terpakai dalam pencapaian keahlian sebagai seorang sarjana. Di jurusan lain pun sama, anak fisika sama sekali tidak butuh kuliah kimia, bahkan malah memperburuk IPK mereka kata salah seorang teman.  Jadi masihkah tahap TPB relevan dilakukan selama dua semester di ITB?

Saya berfikir sama sekali tidak, kita tidak perlu mengulang pelajaran-pelajaran SMA. Apalagi harus mengikuti kuliah yang tidak terpakai dalam program studi kita. Akhirnya saya mempunyai dua pilihan usul : yang pertama TPB itu dilaksanakan selama satu semester saja dengan mata kuliah yang benar-benar penting lalu langsung penjurusan. Yang kedua TPB dihapus dan saat mahasiswa masuk, langsung masuk ke Prodi bukan ke fakultas.

Mahasiswa bukannya hanya seorang yang terus belajar, namun ia juga berkarya. Berlatih berkarya menuju karya sesungguhnya untuk bangsa saat kelak telah menjadi sarjana.

4 responses to “Setahun Ketertinggalan ITB

  1. Waw, ini tulisan pertama yang saya baca mengenai kritikan buat TPB. Saya belum bisa mengambil sikap mengenai perlu tidaknya TPB diterapkan bagi mahasiswa tingkat 1, tapi saya yakin pihak rektorat punya itikad baik untuk membekali mahasiswa ITB dengan landasan ilmu pengetahuan yang mantap dengan harapan mahasiswa memiliki kompetensi untuk mengkaji teknologi, sains, seni, bahkan manajemen. Tulisan yang sangat bagus kang! Semoga bisa menjadi masukan yang positif demi kegiatan perkuliahan yang kondusif di ITB.

  2. ooo fahmi ternyata alumni DKM SMA 5 to?? sepakat sama antum, buat saya TPB jg bisa jadi bekal buat mahasiswa, namun dua semester terlalu lama, satu semester saja sudah cukup menurut saya, sehingga tidak ada mata kuliah yang formalitas saja. sekarang sudah tingkat 4 pengen ambil mata kuliah pilihan yg bener2 kepakai, tapi waktu udah mau habis. padahal dulu tingkat satu banyak waktu tp malah dipakai buat kuliah yang tidak begitu penting.

  3. Wah saya jd merasa punya teman dgn membaca tulisan ini, saya kira cuma di UIN yang 2 semester pertama farmasinya benar2 belajar seperti di SMA (blm ada materi yg menjurus ke farmasi lsg) dan malah lebih seperti pesantren lagi karena ada tambahan pelajaran bahasa arab dan tilawah qiraah ibadah. Terbayangkan bagi yang alumni SMA umum akan lumayan susah beradaptasi dgn bahasa arab khususnya.
    Salam kenal ya kak ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s