The Infinity of Qur’an

Seperti biasanya setiap akhir pekan selalu ada agenda yang Gamais lakukan. Sekarang kerjasama dengan mata’ dan aaei ITB. Acara The Infinity of Qur’an adalah acara Talkshow yang di desain untuk peserta mata kuliah AAEI juga peserta umum agar termotivasi untuk belajar Qur’an lebih dalam lagi. Panitia mengundang kang Mumun dari wiyata guna, beliau seorang tunanetra sejak lahir namun beliau sudah hafal sekitar 25 juz Al-Qur’an!!! Subhanallah…pembicara kedua adalah kang Hasan, mahasiswa elektro ITB 2006 yang juga dengan berbagai aktivitasnya di kampus ternyata juga mampu hafal Qur’an sampai 25 juz hingga saat ini, sungguh hal yang luar biasa buat seorang mahasiswa, karena kang Hasan ini ternyata tidak cuma fokus di kuliah dan menghafal Qur’an tetapi beliau juga aktif di organisasi dan asrama. Kemudian pembicara ketiga adalah seorang anak berumur 15 tahun, Muhammad Nashih yang juga hafal Qur’an, hal ini bisa terjadi karena memang ibunya membiasakan dia berinteraksi dengan Al-Qur’an bahkan saat masih di dalam kandungan dengan seringnya ibu ini melantunkan ayat suci Al-Qur’an saat hamil.

Pertama, kang mumun menjelaskan bahwa beliau membaca Al-Qur’an dengan huruf braile yang ternyata 1 buku hanya bisa memuat 1 juz, jadi beliau harus mempunyai 30 buku agar Qur’an nya lengkap. Sebenarnya dari beliau, tidaklah cukup rumit menjelaskan kenapa beliau bisa hafal Qur’an. Beliau bilang bahwa Qur’an adalah pedoman hidup kita, maka sudah seharusnyalah kita menghafalkannya. Minimal beliau dalam sehari biasanya meluangkan waktu 15 menit untuk duduk menghafal Qur’an dan lama-lama ternyata hafalannya sudah mencapai sekitar 25 juz hingga saat ini, bahkan dengan bacaan tartil yang sangat baik.

Kedua, dari kang Hasan. Bahwa kata beliau semangat menghafal Al-Qur’an akan timbul ketika kita mempunyai alasan kenapa kita membaca dan menghafal Al-Qur’an. Banyak hadist dan ulama yang menjelaskan hal ini, berikut salah beberapa contoh :

Mereka akan dipanggil, “Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?” Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. (HR. At-Tabrani)

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Kemudian, satu faktor yang penting juga adalah keluarga dan kang Hasan sendiri biasanya meluangkan waktu untuk menghafal Qur’an ba’da shubuh, kecuali ada tugas kuliah yang harus dikumpul jam 7 pagi tentunya. Hal ini mungkin bisa kita tiru.

Ketiga, ternyata M.Nashih tidak sampai ke masjid Salman, anak penghafal Qur’an ini belum tahu jalan ke ITB, padahal dia berangkat sendiri. Maka dia digantikan oleh ibunya . Dari cerita ibunya, sangat ditekankan peran ibu disini. Saat orang tua Nashih menikah mereka berdua telah berkomitmen untuk mendidik anak-anaknya menjadi penghafal Qur’an.  Sejak mengandung, ibu Nashih terus menghafal Qur’an, sampai saat Nashih lahir dan menjadi balita, ibunya senantiasa menghafal Qur’an. Pendidikan dari ibu menurutnya adalah yang paling utama karena seorang ibulah yang akan bersentuhan pertama kali dengan sang anak.

Hmmm, jika anda ikut acaranya sendiri tentu akan lebih terasa bagaimana feel nya ketika melihat kang mumun yang membaca Qur’an braile, ketika mendengar cerita ibu nashih dan sebagainya. Beberapa hal yang saya simpulkan : dari kang Mumun, bahwa keterbatasan itu bukan suatu alasan bagi kita untuk berinteraksi dengan Qur’an, jika orang yang punya keterbatasan fisik saja bisa hafal Al-Qur’an, maka kita yang normal seharusnya bisa lebih baik lagi. Dari kang Hasan, terutama untuk mahasiswa, yap, kita sama-sama mahasiswa, bahkan mahasiswa ITB yang sudah terkenal begitu ketatnya tekanan akademik di ITB, namun kang Hasan tetap dapat memanfaatkan waktunya untuk menghafal Qur’an. Terakhir dari Ibunda Nashih, bahwa kemampuan seorang anak dalam menghafal Qur’an terletak pada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Maka Pilihlah pasangan hidup yang bisa bersama-sama mendidik anak untuk menjadi penghafal Al-Qur’an, jangan sampai salah pilih ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s