Indonesia Mandiri dengan Optimalisasi Peran perguruan tinggi

Kondisi Indonesia saat ini tidak sesuai dengan potensi yang ada, permasalahan terbesarnya adalah pada sumber daya manusia Indonesia sendiri. Perguruan tinggi adalah salah satu lembaga utama yang dapat membuat perubahan. Menggagas Indonesia ke depan, sebagai warga negara yang cinta akan Indonesia tentunya kita menginginkan Indonesia yang lebih baik. Disini dijabarkan dalam gagasan Indonesia mandiri, Indonesia yang dapat berdiri sendiri tanpa ketergantungan terhadap negara lain. Banyak masalah yang dihadapi Negara Indonesia namun ternyata banyak juga hal yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi, sehingga untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dan membuat Indonesia mandiri maka solusi utamanya adalah optimalisasi peran perguruan tinggi.

Pendahuluan

Indonesia sebagai salah satu Negara besar di dunia, hampir dari segala segi kehidupan, saat ini terlihat sangat tertinggal terutama oleh negara-negara besar lainnya. Bahkan kondisi yang kita alami sekarang menurut salah satu anggota DPR RI yang juga ketua Badan Legislasi DPR RI, Bomer Pasaribu, adalah kondisi terburuk sejak 36 tahun terakhir (ANTARA News). Bila kita menengok realitas Negara Indonesia, khususnya dalam bidang politik, ekonomi dan sosial, kita bisa mendapatkan fakta-fakta yang cukup membuat kita miris.

Dalam bidang politik, sebagai contoh kasus yang aktual, banyak terjadi perbedaan pendapat mengenai Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif 2009, khususnya tentang daftar pemilih tetap (DPT). Kasus DPT yang terjadi di Jawa Timur menyebabkan undang-undang pemilu nomor 10 tahun 2008 harus diganti dengan peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun 2009. Namun ternyata permasalahan tidak terhenti sampai disitu. Beberapa LSM dan partai politik menggugat dan memberikan opsi agar pemilu diundur. Tentu saja hal ini bukan solusi karena kalaupun pemilu diundur tidak ada yang bisa memastikan bahwa permasalahan mengenai DPT akan selesai, bahkan ada kemungkinan besar muncul-muncul permasalahan baru. Di bidang ekonomi yang secara makro mengacu pada indeks harga saham gabungan dan nilai tukar rupiah dapat juga dilihat bahwa tidak satupun dari kedua parameter diatas, Indonesia dapat lebih baik dari negara-negara besar yang lain. Bahkan dengan negara-negara kecil tetangga Indonesia yang notabene sumber daya alamnya lebih sedikit, secara ekonomi Indonesia semakin tertinggal. Ini fakta yang tidak dapat dipungkiri. Dengan buruknya dua bidang diatas secara otomatis memberikan imbas yang sama pula kepada bidang sosial: kriminalitas meningkat, pengangguran dan kemiskinan meningkat dan lain sebagainya, data Badan Pusat Statistik Republik Indonesia No. 47 / IX / 1 September 2006 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta. Ironisnya hal ini cenderung terjadi setiap tahun, penduduk miskin terus bertambah.

Indonesia sebagai negara terluas ke lima belas didunia (Wikipedia,2009) dan sebagai negara berpenduduk terbesar ke empat di dunia, sebenarnya mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi negara maju. Luas lautan dan keanekaragaman potensi lautnya yang besar, keanekaragaman hayati terbesar kedua (setelah Brazil), beraneka barang tambang, tanah yang subur, hutan hujan tropis yang luas dan sebagainya merupakan potensi alam yang dapat membuat Indonesia seharusnya lebih baik daripada yang kita alami sekarang. Pertanyaanya adalah mengapa Indonesia masih saja tertinggal dengan negara lain, jawabannya adalah sumber daya manusia Indonesia (SDM) sendiri. Hal ini terlihat pada Indikator Pembangunan Manusia (IPM) – yang salah satu ukurannya adalah tingkat pendidikan – yang dikembangkan United Nations Development Programme (UNDP), menempatkan Indonesia pada posisi sekitar 40% terbawah, sementara Malaysia pada posisi 40% teratas, dan Singapura pada posisi 15% teratas di antara 174 negara yang dinilai (Nachrowi, Kompas, 24/6/2003). Memang permasalahan SDM Indonesia bukan pada kuantitasnya melainkan kualitas dan optimalitasnya. Jika SDM Indonesia telah berkualitas minimal sama dengan bangsa besar lain dan lembaga-lembaga yang ada baik pemerintah dan swasta mampu mengoptimalkan semua potensi yang ada, tentu saja Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lain dan menjadi mandiri.

Indonesia sebagai Negara Mandiri

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi mandiri adalah keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung kepada orang lain. Jika digabung dengan kata negara menjadi frase Negara Mandiri maka dapat didefinisikan bahwa negara mandiri adalah negara yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan negara lain dan tidak tergantung oleh negara lain. Tentu saja yang dimaksud tidak tergantung dengan negara lain bukan dalam artian mutlak, setiap negara pasti membutuhkan negara lain sebagaimana manusia yang juga membutuhkan manusia lain karena manusia adalah makhluk sosial. Mandiri dalam hal ini lebih cenderung kepada kemandirian ekonomi dan politik. Secara ekonomi negara mandiri mempunyai posisi yang kuat dalam hal produksi dan penguasaan pasar, mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, lebih jauh lagi bisa menyuplai kebutuhan negara lain juga. Dalam bidang politik, suatu negara yang mandiri bukanlah negara yang tidak mempunyai hubungan politik sama sekali dengan negara lain. Negara yang mandiri dalam bidang politik adalah negara yang tidak diintervensi oleh negara lain, kebijakan-kebijakan negara tersebut tidak dipengaruhi secara langsung oleh negara lain. Sebagai contoh kita lihat Negara Jepang, negara yang sedang hancur saat Indonesia merdeka, sekarang telah mandiri dalam berbagai bidang.

Ada satu kalimat terkenal dari Kaisar Jepang, Hirohito, yang bisa dikatakan sebagai salah satu kunci kesuksesan Jepang. Saat negara itu hancur oleh bom hidrogen dan akhirnya menyerah kepada pasukan sekutu, kaisar tidak menanyakan berapakah jumlah pasukan yang tersisa, berapakah jumlah dana dan jumlah persenjataan yang tersisa. Namun kaisar menanyakan berapakah jumlah guru yang tersisa. Pada masa itu Jepang telah sadar betapa pentingnya pendidikan bagi bangsanya, sedangkan Indonesia masih saja berkutat pada perebutan kekuasaan tanpa kemajuan yang signifikan di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Pendidikan hanya salah satu parameter dari sekian banyak parameter negara mandiri namun tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor utama dalam membentuk suatu negara mandiri yang maju. Untuk mencapai negara mandiri, pendidikan yang dilaksanakan tidaklah cukup hanya sampai pendidikan menengah atau bahkan pendidikan dasar. Negara mandiri harus melaksanakan pendidikan sampai ke tingkat perguruan tinggi, dan tentunya perguruan tinggi yang berkualitas. Jika melihat Jepang lagi, salah satu perguruan tinggi di sana selalu menempati posisi teratas dalam rangking universitas-universitas Asia. Hal ini berbanding lurus dengan kondisi Negara Jepang. Maka, jika Indonesia juga ingin menjadi negara mandiri maka perguruan tinggi yang ada pun juga harus berkualitas, kemudian dioptimalisasi untuk membawa Negara Indonesia menjadi Negara yang mandiri. Optimalisasi ini menjadi sangat penting ketika suatu negara yang sebenarnya mempunyai potensi tidak dapat mengelola potensi itu dengan baik.

Optimalisasi Peran Perguruan Tinggi

Ravik Karsidi dari Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Sebelas Maret pada Diskusi Kesiapan Kampus Dalam Mendukung Otonomi Daerah, Fakultas Hukum UNS, Solo, 19 Mei 2001 menyampaikan bahwa dalam rangka aktualisasi peran Perguruan Tinggi (khususnya dharma pengabdian kepada masyarakat), maka peranan makro yang dapat dimainkan antara lain:

1.Perguruan Tinggi memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi perubahan-perubahan suatu masyarakat. Peran dan fungsi perguruan tinggi dapat diwujudkan dalam bentuk membangun gerakan pembelajaran masyarakat untuk mendorong segera terciptanya transformasi sosial.

2.Kini, masih saja terjadi jarak yang lebar antara perguruan tinggi dengan basis-basis perubahan masyarakat yang ada. Tidaklah berlebihan sekiranya perguruan tinggi diharapkan dapat berperan lebih progresif dalam mempengaruhi perubahan masyarakat secara lebih sistematis dan berdampak luas di masa-masa mendatang. Untuk itu kedekatan Perguruan Tinggi dan masyarakat harus diusahakan melalui program kemitraan kelompok-kelompok masyarakat dengan Perguruan Tinggi.

3.Perguruan tinggi dituntut untuk menentukan dan memilih kebijakan yang benar-benar strategis bagi perubahan-perubahan masyarakat yang lebih baik dan bagi penyelesaian masalah-masalah mendasar bangsa saat ini, baik ditingkat nasional maupun lokal.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa perguruan tinggi berperan besar dalam transformasi sosial dan mempengaruhi perubahan masyarakat yang sistematis baik ditingkat nasional maupun lokal.

Bila dijabarkan, sebenarnya perguruan tinggi mempunyai hampir semua peran untuk menuju kemandirian bangsa Indonesia. Sektor ekonomi, sebagai contoh bidang industri, perguruan tinggi seharusnya menjadi inkubator industri Negara Indonesia. Banyak hal bisa dilakukan, industri memerlukan teknologi dan perguruan tinggilah yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Industri juga memerlukan manajemen dan lagi-lagi perguruan tinggi juga yang menguasai ilmu manajemen. Bidang lain, misalnya pertanian, Indonesia sebagai negara yang tanahnya subur dan luas, sering disebut sebagai negara agraris. Namun kenyataanya sungguh ironis, sejak krisis ekonomi tahun 1998, Indonesia selalu mengimpor beras sampai tahun 2007. Situs berita inggris, BBC (www.bbc.co.uk ), menyebutkan pada akhir Mei 2007 pemerintah Indonesia bersiap meneruskan target impor beras yang ditetapkan akhir tahun 2006, akibat hasil panen hingga bulan sebelumnya belum mencukupi. Baru pada tahun 2008 pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia telah surplus beras dan tidak pelu mengimpor lagi, akan tetapi tahun 2009 ada kemungkinan Indonesia mengimpor beras kembali. Ini adalah indikasi bahwa Indonesia belum mandiri dalam bidang pangan. Maka disini perguruan tinggi dapat berperan dalam peningkatan produksi, diantaranya dengan memasyarakatkan mekanisasi pertanian kepada petani tradisional, memperkenalkan sistem pembasmi hama yang efektif dan sebagainya. Semua itu bisa dilakukan terutama jika perguruan tinggi bersinergi dengan pemerintah.

Di bidang sosial dan politik, disamping militer, perguruan tinggi adalah tempat kaderisasi utama bagi negarawan-negarawan Indonesia. Dari presiden Indonesia yang pernah ada, dapat diketahui bahwa banyak yang merupakan alumni perguruan tinggi. Ir, Soekarno, Prof.Dr. B.J. Habibie dan Megawati soekarnoputri setidaknya pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi Indonesia. Anggota-anggota DPR, menteri-menteri, duta besar dan aparat-aparat negara lainnya sebagian besar adalah alumni perguruan tinggi. Karena perguruan tinggilah yang mencetak orang-orang tersebut untuk bisa menjadi orang yang berkontribusi bagi Negara Indonesia.

Pendidikan dan Penelitian merupakan kegiatan di dalam perguruan tinggi yang tidak secara langsung mengubah nasib Negara Indonesia menjadi Negara mandiri namun tidak dapat dipungkiri bahwa kedua hal diatas adalah faktor-faktor penting. Seperti diuraikan diatas, bidang pendidikan jelas menjadi modal utama, namun apakah pendidikan yang didapat oleh mahasiswa akan menjadi katalis dalam menuju kemandirian bangsa Indonesia, itulah yang dipertanyakan. Data kuesioner mahasiswa, dengan sampel mahasiswa ITB menunjukkan bahwa semua mahasiswa sepakat keadaan Indonesia sekarang buruk, bahkan ada yang menulis buruk sekali. Kemudian pertanyaan selanjutnya tentang harapan bagaimana Indonesia kedepan, 80 % mahasiswa sepakat Indonesia harus menjadi negara maju. Namun ironisnya mahasiswa tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir, yaitu apa yang akan dilakukan untuk bangsa Indonesia kedepan, dua mahasiswa menjawab akan melakukan sesuatu dan satu mahasiswa menjawab akan memperbaiki bangsa Indonesia. Jelas itu semua bukan jawaban yang konkrit, Indonesia butuh tindakan nyata demi kemandirian negara ini. Maka disini perguruan tinggi juga berperan dalam mencetak alumni-alumni yang tidak hanya ahli dalam hard skill untuk diri sendiri, tetapi juga alumni yang mempunyai kontribusi nyata demi kemandirian Negara Indonesia. Disinilah salah satu letak optimalisasi peran perguruan tinggi.

Optimalisasi peran perguruan tinggi pada penelitian saat ini sudah mulai bermunculan walaupun masih saja kalah dengan bangsa lain. Saat ini perguruan tinggi telah banyak melakukan riset, beberapa diantaranya bahkan berhasil menemukan (invention) hal-hal baru seperti penemuan Dicky Rezadi Munaf, Ph.D. Beliau berhasil menemukan suatu metoda yang dapat mengatasi medan gravitasi nol dan mampu menghemat sedikit 30% energi yang dibutuhkan untuk mencampur beton di luar angkasa. Metoda Agregat Prepak dan Alat Injeksi Pasta Semen. Penemuan ini nantinya akan digunakan oleh Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) untuk membangun habitat di Bulan pada 2005, Mars 2025, dan Venus. Hebatnya penemuan ITB ini satu-satunya di dunia yang paling canggih dibandingkan temuan serupa yang pernah dilakukan oleh NASA. Masih banyak penelitian-penelitian lain yang sudah dilakukan ilmuwan Indonesia, kedepan semoga lebih banyak lagi hal-hal baru yang dapat ditemukan sehingga Indonesia bisa menjadi Negara mandiri dalam bidang ilmu pengetahuan.

Negara Indonesia merupakan negara besar dan berpotensi namun saat ini masih tertinggal dengan negara-negara lain dan belum mampu menjadi mandiri. Permasalahan utama terletak pada sumber daya manusia yang ada. Untuk mencapai negara yang mandiri banyak faktor yang menjadi parameter, salah satunya adalah pendidikan terutama tingkat perguruan tinggi. Karena itu sumber daya yang ada dapat diarahkan guna mencapai kemandirian Negara Indonesia bila sumber daya yang ada di Indonesia berkualitas. Maka solusi yang paling mungkin adalah optimalisasi peran peran perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat berperan secara optimal sesuai dengan tridharma perguruan tinggi, yaitu :

1. Pendidikan

2. Penelitian

3. Pengabdian masyarakat

Saat ini optimalisasi sudah mulai dilakukan dan seharusnya lebih ditingkatkan lagi. Maka agar peran perguruan tinggi lebih optimal dapat dilakukan hal-hal berikut :

1.Menyelenggarakan pendidikan yang modern dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia,

2.Melakukan up grading komponen-komponen pendidikan baik pengajar (dosen), manajemen pendidikan, maupaun sarana dan prasarana,

3.Melakukan penelitian-penelitian berbasis teknologi yang aplikatif,

4.Membuat kompetisi-kompetisi ilmiah sesering mungkin,

5.Memaksimalkan peran mahasiswa dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi,

6.Bersama pemerintah menyosialisasikan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna bagi masyarakat secara langsung,

7.Membuat suatu lembaga inkubator bisnis yang melayani masyarakat,

8.Mentransfer budaya ilmiah kedalam segala segi kehidupan bangsa dan negara melalui alumni-alumni perguruan tinggi.

Berikut beberapa saran yang dapat disampaikan, setiap perguruan tinggi pasti mempunyai berbagai cara sendiri, namun setidaknya beberapa saran diatas bisa memberikan gambaran umum mengenai optimalisasi peran perguruan tinggi. Apapun itu semoga bisa mengakselerasi kemajuan dan kemandirian Negara Indonesia, demi Indonesia tercinta.

Referensi

BAPPENAS. 2008. Bersama Menata Perubahan, Evaluasi Tiga Tahun Pelakanaan RPJMN 2004-2009. Jakarta : Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional.

Gayo,Iwan. 2001. Buku Pintar Seri Junior. Jakarta : Penerbit Upaya Warga Negara

http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=7603&It

emid=701

http://www.antara.co.id/arc/2007/7/6/kondisi-indonesia-saat-ini-terburuk-dalam-36-

tahun/

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/19/03453988/Memantau.Kondisi.Indonesia

http://www.bps.go.id/releases/files/kemiskinan-01sep06.pdf

http://www.bps.go.id/sector/employ/table4.shtml

http://www.bps.go.id/sector/ipm/table1.shtml

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

http://www.uns.ac.id/data/0017.pdf

3 responses to “Indonesia Mandiri dengan Optimalisasi Peran perguruan tinggi

  1. kita tuh harus realistis di masa kini, tapi tetap memandang masa depan dengan optimis..

    kalo kata pak rhenald kasali, masyarakat sesungguhnya semakin maju, tetapi, paradoksnya adalah semakin banyak orang-orang yang mengeluhkan hidupnya..

    anyway, realistis-optimis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s