Pemisahan senyawa organik

              Kelarutan senyawa dinyatakan sebagai jumlah gram zat terlarut dalam 100 ml pelarut pada 25o C. Senyawa akan larut dalam suatu pelarut jika kekuatan atraktif antara kedua molekul ( zat terlarut dalam pelarut) adalah sesuai. Yang polar larut dalam pelarut polar dan sebaliknya.
         Ekstraksi adalah metode pemisahan yang melibatkan proses pemindahan satu atau lebih senyawa dari satu fasa ke fasa lain dan didasarkan pada prinsip kelarutan, Jika kedua fasa tersebut adalah zat cair yang tidak saling bercampur, disebut ekstraksi cair-cair.
Dasar metode ekstraksi cair-cair adalah distribusi senyawa diantara dua fasa cair yang berada dalam keadaan kesetimbangan. Perbandingan konsentrasi di kedua fasa terseut, disebut koefisien distribusi , K , yaitu K = ca/cb. Perpindahan senyawa terlarut dariu satu fasa ke fasa lain akhirnya mencapai keadaan setimbang pada jumlah ekstraksi dilakukan, bukan volume pelarut. Hal ini dinyatakan dengan perhitungan dengan perhintunagan konsentrasi zat terlarut.
                        

                                                   Cn = Co [ KV1 / (KV1 + KV2) ] n

           Prinsip pemisahan berdasarkan ekstrasi menggunakan dasar perbedaan kelarutan suatu zat. Ekstrasi adalah metoda pemisahan yang melibatkan proses pemindahan satu atau ebih senyawa dari satu fasa ke fasa yang lain dan didasarkan pada prinsip kelarutan. Dalam ekstrasi ini secara umum prinsip pemisahannya adalah senyawa tersebut kurang larut dalam pelarut yang satu dan sangat larut dalam pelarut yang lain. Biasanya air digunakan sebagai pelarut polar, pelarut lainnya adalah pelarut yang tidak bercampur dengan air. Syarat lainnya adalah pelarut organik harus memiliki titik didih jauh lebih rendah daripada senyawa terekstrasi, tidak mahal dan tidak bersifat racun.
          Kafein adalah senyawa yang termasuk dalm golongan alkaloid. Alkaloid adalah senyawa yang mengandung atom nitrogen dalam strukturnya dan banyak ditemukn dalam tanaman.

ALAT & BAHAN
Alat                                                                     Bahan

1. Labu erlenmeyer 250 ml             1. Daun teh kering 25 g
2. corong pisah 100 ml                     2. 20 g Na2CO3
3. labu Erlenmeyer 125 ml              3. air
4. penangas air                                     4. diklorometana
5. kertas saring                                     5. CaCl2 anhidrat
6. pipet                                                    6. Aseton panas
7. labu Erlenmeyer kecil                  7. Batu didih
8. penyaringan isap                           8. Ligroin / N-Heksan
9. pelat TLC                                           9. Kloroform / Diklorometana
10. klem bundar                                 10. Eluen
11. tabung soxhet                               11. Pereaksi semprot dragendrof
12. tali benang kasur                        12. Pereaksi meyer
13. labu bundar                                  13. As asetat glasial
14. kondensor                                     14. NaOH 0,3 M
15. penyaringan buchner              15. fenolftalein
16. alat uji titik leleh                        16.as. asetat
17. eter, metanol

PENGAMATAN
A. Ekstraksi Padat cair : ekstraksi kafein dari teh
 Ekstrak berwarna hitam
 Setelah ditambah diklorometana terdapat dua lapisan
 Ketika dikocok, ada gas yang keluar
 Setelah ditambah CaCl2 ekstrak menjadi keruh
 Terdapat emulsi ketika mengocok
 Didapatkan Kristal berwarna hijau dengan massa 0,1146 gram
 Titik leleh Kristal : 210 oC – 216 oC
B. Uji Kromatografi lapis tipis (TLC)
 Dengan Dragendrof
• Titik melebar
a = 1,6 cm
D = 3,9 cm
 Dengan UV
• Terdapat dua senyawa murni
a = 0,6 cm
D = 3,85 cm

C. Uji Alkaloid
 Terdapat endapan jingga / kuning
D. Ekstraksi Cair-Cair
 Molaritas NaOH : 0,33 M
 Volume NaOH yang terpakai
I. 9,1 ml NaOH
II. 7,45 ml NaOH
III. 8,35 ml NaOH
 Titrasi terhadap asam asetat dalam fasa air, volume NaOH yang terpakai : 2,8 ml

PERHITUNGAN

A. -Tidak ada perhitungan-
B. a. Rf = a/D = 1,6/3,9 = 0,4
b. Rf = a/D = 0,6/3,85 = 0,153
C. -tidak ada perhitungan-
D. Molaritas NaOH = 0,33 M Titrasi Asam Asetat dalam fasa air
I. V1 M1 = V2 M2 volume : 2,8 ml,
5 . M1 = 9,,1 . 0,33 Molaritas asam : 2,8 X 0,33
M1 = 0,6 Molar 3,5
II. V1 M1 = V2 M2 = 0,264 Molar
5. M1 = 7,45 . 0,33
M1 = 0,4917 Molar
III. V1 M1 = V2 M2
5 M1 = 8,35 0,33
M1 = 0,5511 Molar

PEMBAHASAN
Ekstraksi Padat cair : ekstraksi kafein dari teh
Pada percobaan ini ditambahkan Na2CO3 untuk mengikat tannin agar larut dalam air, ion tannin akan berikatan dipole dengan Na2CO3 sehingga lepas/terpisah dari kafein.
Na2CO3 + tannin → garam tannin (larut dalam air)
Sedangkan air panas ditambahkan untuk memisahkan fasa padat (selulosa dsb) dengan zat yang terlarut (tannin , kafein dll). Ekstraksi dilakukan dengan penambahan diklorometana didalam corong pisah, kemudian dikocok, pengocokan tidak boleh terlalu keras untuk menghindari terbentuknya emulsi. digunakan diklorometana karena kafein mempunyai koefisien distribusi di diklorometana lebih besar daripada di air. Sedangkan digunakan corong pisah adalah untuk mengeluarkan gas yang dihasilkan.

Setelah terdapat dua fasa, untuk mengetahui yang mana fasa air maka campuran ditetesi dengan air, dan ternyata fasa air terdapat pada bagian yang hitam, berarti fasa organic adalah yang bening. Penambahan CaCl2 dimaksudkan untuk menyerap sisa air yang tercampur dalam fasa organic. Untuk menguapkan pelarut digunakan penangas air sehingga didapat Kristal kafein dengan masa 0,1146 gram, berbeda dengan literature yatu 0,25 gram karena berbagai factor, diantaranya :
 terbentuknya emulsi, sehingga banyak kafein yang terperangkap dan tidak dapat diekstraksi,
 ada kafein yang menempal pada alat-alat percobaan,
 jatuh, dan tertiup angin.
 Selain itu karena keadaah teh yang sudah lama, dapat dimungkinkan kandungan kafein dari teh sudah berkurang.
Titik leleh Kristal adalah 210-216 oC. Sedikit berbeda dengan literature karena terdapat pengotor yaitu pelarut yang masih tersisa.
Pada KLT digunakan pelat alumunium dengan bagian belakang silica, terdapat dua fasa yaitu fasa diam: silica dan fasa gerak : eluen. Pada kromatografi, terdapat persaingan antara fasa gerak dengan fasa diam untuk muncul.
1. Dibuat batas atas dan bawah dengan pensil
2. Menotol senyawa pada bagian bawah
3. Volume dalam chamber tidak boleh melebihi batas bawah
Uji dengan dragendrof, titik Kristal melebar, berdasarkan literatur ada senyawa lain yang mengotori Kristal
Uji dengan UV juga menunjukkan bahwa terdapat dua senyawa, hal ini terjadi karena kafein belum direkristalisasi karena keterbatasan waktu. Rf untuk uji dragendrof adalah 0,4 sedangkan Rf uji UV adalah 0,154, karena uji dragendrof senyawa masih bercampur sedangkan UV senyawa murni terpisah maka Rf yang dgunakan adalah 0,154.
Uji alkaloid digunakan untuk menguji apakah kafein termasuk senyawa alkaloid atau tidak, alkaloid yaitu senyawa yang mengandung unsure N. dari percobaan dihasilkan endapan berwarna jingga , berdasarkan literatur hal ini berarti kafein adalah senyawa alkaloid. Dari struktur yang telah ditemukan terlihat bahwa hasil percobaan ini benar.

Struktur kafein (terdapat unsure N)

Dalam ekstraksi cair-cair Molaritas asam yang didapatkan dari larutan asam asetat awal > larutan dalam fasa air dan eter > dalam lapisan air (9,1 ml > 8,35 ml > 7,45 ml ), hal ini berarti asam lebih larut dalam air.

KESIMPULAN
1. Ekstraksi adalah metode pemisahan dua senyawa atau lebih dari satu fasa ke fasa lain berdasarkan pada prinsip kelarutan.
2. Jenis-jenis ekstraksi :
 ekstraksi cair-cair : jika kedua fasa adalah zat cair yang tidak saling bercampur, prinsip yang digunakan adalah prinsip koefisien distribusi
 ekstraksi padat-cair : zat yang akan diekstraksi terdapat dalam fasa padat
 ekstraksi asam-basa : berdasarkan sifat asam-basa senyawa organic disamping kelarutanya.
3. Penggaraman bertujuan untuk melarutkan zat dalam air, karena dalam air garam akan menjadi ion yang larut dan terpisah dari zat lain.
4. Berdasarkan hasil ekstraksi, dalam 25 gram teh terdapat kafein dengan masa 0,1146 dan titik leleh 210-216

25 responses to “Pemisahan senyawa organik

  1. artikelnya ditambah dunk…..

    misalnya ja….
    – kenapa larutan menjadi 2 lapisan….?
    – bagaimana bila memakai eter atau kloroform….?

    makacih…..

    salam kenal…. ^_^

  2. assalamu`alaikum wr wb, salam kenal, artikelnya sangat berguna, saya ingin tanya masalah alkaloid, perbedaan +1, +2, +3 dan +4 dari mananya ya? mohon balasannnya ya!!! jazakillah

    • klo ada heksan ga usah, ligroin tu kan nama lain petroleum eter, buat pelarut pengekstraksi juga..
      klo Rf tu buat membandingkan senyawa yg kita uji di KLT dg literatur atau baku pembanding, klo Rf sama kemungkinan besar senyawa yg kita uji sama juga. gitu diah..

  3. wah ini tulisan padahal ditulis pas dulu masih cupu2nya, jangan jd referensi utama ya. ekstraksi cair2 (ECC) tu berarti fase yang diekstrak (raffinat) berupa cairan misal larutan alkaloid, pengekstrak juga cairan misal etanol. Biasanya pakai corong pisah kalo di Indonesia mah, ada juga alat Craig. Klo ekstraksi padat cair, berarti yang diekstrak berupa padatan (misal serbuk/simplisia kunyit) nah zat pengekstraknya cairan, misal etil asetat…begitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s